Thursday, 5 February 2015

"UFO MENURUT ISLAM"

UFO, Alien & Islam
Al-Qur’an menjelaskan tentang
Makhluk Luar Angkasa
Apakah alien itu ada menurut Al-
Quran?
Mungkin definisi alien bagi kita adalah
makhluk asing selain manusia yang
(mungkin iya mungkin tidak) memiliki
intelegensia seperti manusia
Sejenak kita simak dan renungi ayat
berikut:
( ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﺚَّ
ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻣِﻦ ﺩَﺍﺑَّﺔٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻳَﺸَﺎﺀ
ﻗَﺪِﻳﺮٌ‏) ‏( ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ 29: )
Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-
Nya ialah menciptakan langit dan bumi
dan makhluk-makhluk yang melata
Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan
Dia Maha Kuasa mengumpulkan
semuanya apabila dikehendaki-Nya.
(QS Asy-Syuura 42 : 29)
kita kutip potongan ayat tersebut:
..dan makhluk-makhluk yang melata
Yang Dia sebarkan pada keduanya.
Apakah memang makhluk-makhluk
melata itu ada yang menghuni di suatu
tempat nan jauh disana, di bagian
sistem bintang tertentu, atau
mungkin di bagian cluster galaksi lain,
atau mungkin bahkan di supercluster
lain?
Sebagian ulama mengatakan bahwa
lafaz daabbah (makhluk melata)
menunjukkan bahwa itu makhluk-
makhluk selain malaikat karena Allah
Azza wa Jalla membedakan antara
makhluk yang melata dengan malaikat
dalam menyebutkannya dalam firman-
Nya:
( ﻭَﻟِﻠّﻪِ ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ
ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻣِﻦ ﺩَﺁﺑَّﺔٍ ﻭَﺍﻟْﻤَﻶﺋِﻜَﺔُ ﻭَﻫُﻢْ ﻻَ
ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ‏) ‏( ﺍﻟﻨﺤﻞ 49: )
dan kepada Allah sajalah bersujud
segala makhluk melata yang berada di
langit dan semua makhluk yang melata
di bumi dan (juga) Para ma]aikat,
sedang mereka (malaikat) tidak
menyombongkan diri (QS An-Nahl 16 :
49).
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An
Nahl 49 :
Kemudian Allah SWT menjelaskan
bahwa semua benda yang ada di langit
dan yang ada di bumi termasuk pula
makhluk Nya yang melata di bumi juga
para malaikat tunduk di bawah
kekuasaan Allah. Mereka itu bersujud
kepada Allah SWT menurut cara
masing-masing sesuai dengan fitrah
kejadiannya. Bahkan malaikat pun
yang berada di langit tidak mau
menyombongkan dirinya dan tidak suka
membangkang untuk tunduk dan takluk
serta menaati ketentuan ketentuan
Allah.
Perlu diingat, yang jelas Allah Maha
Kuasa, Kekuasaan-Nya meliputi
segala-Nya juga pikiran kita. Apa
yang belum terlihat oleh kita bukan
berarti tidak ada. Hanya kita yang
belum mengetahuinya.
Dan juga berikutnya:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻭَﻗَﻊَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﺧْﺮَﺟْﻨَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺩَﺍﺑَّﺔً ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺗُﻜَﻠِّﻤُﻬُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻟَﺎ
ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ‏( 82 )
Dan apabila perkataan telah jatuh
atas mereka, Kami keluarkan sejenis
binatang melata dari bumi yang akan
mengatakan kepada mereka, bahwa
sesungguhnya manusia dahulu tidak
yakin kepada ayat-ayat Kami (QS: An-
Naml 27 : 82)
mari kita perhatikan:
..sejenis binatang melata dari bumi
yang akan mengatakan kepada
mereka…. benar, binatang melata dari
bumi yang berkata atau berbicara..
Jelas disitu bahwa akan ada makhluk
lain yang baru yang mempunyai
kemampuan berbicara atau
berkomunikasi dengan manusia.
Tetapi tidak perlu dipermasalahkan
bagaimana bentuknya atau rupanya.
Yang jelas tidak seperti yang di film-
film alien itu.
dan sekali lagi:
ْﻢَﻟَ ﺗَﺮَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ
ﺇِﻥْ ﻳَﺸَﺄْ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻜُﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺕِ ﺑِﺨَﻠْﻖٍ ﺟَﺪِﻳﺪٍ ‏( 19 )
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa
sesungguhnya Allah telah menciptakan
langit dan bumi dengan hak? Jika Dia
menghendaki, niscaya Dia
membinasakan kamu dan mengganti
(mu) dengan makhluk yang baru.
(14:19)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah
Ibrahim 19
Dalam ayat ini Allah SWT. menyebutkan
Dialah yang menciptakan semua langit
dan bumi dengan hak. Maksudnya Allah
menciptakan semuanya itu bukanlah
dengan percuma melainkan dengan
penuh hikmah. Oleh sebab itu manusia
yang telah dijadikan-Nya sebagai
khalifah-Nya di bumi ini hendaklah
memanfaatkan semua itu dengan cara
yang baik dan untuk tujuan yang baik
pula. Sesuai dengan peraturan dan
ketentuan-Nya. Akan tetapi jika
manusia itu menyimpang dari
peraturan dan ketentuan Allah, maka
Dia tidak membiarkan berbuat
kelaliman itu.
Maka pada akhir ayat ini Allah SWT.
menegaskan kepada Rasul-Nya, jika
Allah menghendaki maka Allah akan
membinasakan beserta umatnya dan
akan mengganti mereka dengan
makhluk yang baru.
Penegasan ini adalah untuk
mengingatkan Rasul dan umatnya yang
taat dan beriman kepada Allah, betapa
besarnya dosa orang-orang kafir itu,
karena dengan kekafiran tersebut
mereka tidak mengakui kekuasaan
Allah sebagai pencipta dan pemelihara
makhluk-Nya. Apabila manusia
memikirkan kekuasaan Allah dan
rahmat-Nya terhadap hamba-Nya,
niscaya mereka akan sampai kepada
keyakinan bahwa hanya Allah sajalah
yang berhak untuk disembah dan dipuji
serta ditakuti azab dan siksa-Nya.
benar, makhluk yang sama sekali baru
(kholqin jadiid) atau makhluk yang
sama sekali kita belum mengetahui
akan seperti apa bentuknya.
Sedangkan, standar universal makhluk
di alam semesta ini belum dapat
ditentukan, karena tidak ada standar
tertentu yang dapat dibuat manusia
untuk menentukan selogis apa
makhluk yang harus ada atau layak
mendiami alam semesta ini.
Begitulah, muslimin, karena ilmu saya
masih terbatas, saya memerlukan
sharing ilmu dan pikiran disini tentang
itu. Diskusi juga dapat disertakan
penjelasan darimana pun asal itu
ilmiah. Mari kita asah kemampuan
berpikir kita
Al-Qur’an yang disusun berdasarkan
petunjuk Nabi Muhammad SAW
(taufiqi) tidak sesuai dengan urutan
turunnya wahyu, ternyata mempunyai
struktur yang spesifik. Penempatan
surat, ayat, jumlah surat, jumlah
ayat, semuanya tersusun sedemikian
rupa sehingga kehilangan, bertambah
atau tertukarnya ayat, apalagi
tertukarnya surat, membuat
kekacauan makna dan struktur tadi.
Ini membuktikan bahwa al-Qur’an
telah terkodetifikasi secara sempurna
sejak ‘azali. Hanya Al-Quran dan
Hadits Shahih lah yang menjadi
pedoman hidup kita.
Al-Quran Menjelaskan Tentang UFO
dan Teknologinya
Di dunia masa kini, ada dua macam
kendaraan yang pada umumnya dipakai
manusia dalam sejarah hidupnya, yaitu
yang memakai tenaga tolak untuk
maju contohnya hewan, mobil, kapal
laut atau kapal udara.
Yang lainnya memakai gaya
centrifugal (melanting dari titik
tolak) seperti pesawat UFO yang
populer disebut “piring terbang”.
Kedua macam kendaraan ini oleh Al-
Quran surat An-Nahl ayat 8
disebutkan sebagai benda terapung dan
ternak. Yang dimaksud dengan ternak
yaitu kuda, unta, keledai dan
sejenisnya. Dan benda terapung
maksudnya yaitu segala macam
kendaraan yang diwujudkan oleh
teknologi manusia termasuk di
dalamnya “piring terbang”.
Khusus mengenai “piring terbang”,
oleh surat An-Nahl ayat 8 adalah
kendaraan yang tidak diketahui
manusia dalam waktu ribuan tahun dan
oleh surat Az-Zukhruf ayat 12
menyebutkan bahwa Allah SWT
menciptakan semua yang berpasangan-
pasangan. Maksudnya, ada bagian
positif dan bagian negatif dari “piring
terbang” itu (positif dan
negatif=pasangan).
Karena surat Az-Zukhruf ayat 12 ini
membicarakan tentang alat
transportasi maka tentunya istilah
“berpasangan-pasangan” itu adalah
kendaraan. Dan kendaraan itu tak lain
mungkin adalah “piring terbang” yang
memiliki bagian positif dan bagian
negatifnya.
( ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟْﺒِﻐَﺎﻝَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺮَ ﻟِﺘَﺮْﻛَﺒُﻮﻫَﺎ ﻭَﺯِﻳﻨَﺔً
ﻭَﻳَﺨْﻠُﻖُ ﻣَﺎ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏(ﺍﻟﻨﺤﻞ 8:
Dan (Dia Telah menciptakan) kuda,
bagal*) dan keledai, agar kamu
menungganginya dan (menjadikannya)
perhiasan. dan Allah menciptakan apa
yang kamu tidak mengetahuinya. (QS
An-Nahl, ayat 8 )
*) Bagal adalah peranakan kuda
dengan keledai.
Ayat ini menerangkan soal kendaraan
yang biasa dan bisa dipakai oleh
manusia. Manusia biasa menggunakan
kendaraan ternak. Kuda dan keledai
merupakan tenaga pembawa dan
penarik maka keadaannya sama dengan
mobil dan kapal terbang selaku
pembawa dan penarik. Penggalan kata
“bisa” pada paragraf ini, merupakan
sesuatu yang belum diketahui manusia
tentang kendaraan.
Baik kuda dan keledai maupun mobil
dan kapal terbang sama-sama
menggunakan tenaga tolak ke
belakang untuk maju ke depan, pada
dasarnya kedua macam kendaraan itu
memiliki prinsip yang sama. Lalu
kendaraan apa yang belum diketahui
manusia seperti yang disebutkan pada
surat An-Nahl ayat 8 itu?
Hal ini dijawab sendiri oleh Al-Quran :
Dan yang menciptakan semua yang
berpasang-pasangan dan menjadikan
untukmu kapal dan binatang ternak
yang kamu tunggangi.
Supaya kamu duduk di atas
punggungnya, kemudian kamu ingat
nikmat Tuhanmu apabila kamu telah
duduk di atasnya; dan agar kamu
mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang
Telah menundukkan semua ini bagi
kami padahal kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya”.
Dan Sesungguhnya kami akan kembali
kepada Tuhan kami. (Surat Az-
Zukhruf ayat 12 – 14)
Kalau anda membaca susunan ayat Al-
Quran ini sepintas mungkin anda tidak
merasa mendapatkan sesuatu yang
aneh dan baru. Akan tetapi, patut
diketahui bahwa tidak ada satu pun
ayat suci Al-Quran yang diwahyukan
oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya yang
percuma atau tidak memiliki makna.
Kalau anda teliti dan merenungkannya
dalam-dalam, semua ayat-ayat yang
terkandung dalam Al-Quran itu selalu
memiliki unsur-unsur keterkaitan
antar ayatnya, baik kaitan ayat yang
ada di dalam surat itu sendiri atau
kaitan ayat pada surat-surat Al-
Quran yang lain.
Sederhananya, keterkaitan satu ayat
dengan ayat yang lainnya seperti
dunia internet yang sedang anda
jelajahi ini. Suatu halaman web yang
berisi informasi selalu memiliki kaitan
atau link, baik link yang menuju ke
halaman web itu sendiri ataupun link
yang menuju ke halaman web yang
lainnya.
Nah, semua unsur-unsur yang saling
berkaitan itu tak jarang selalu
menghasilkan pemahaman ilmiah yang
dapat diterima oleh akal sehat.
Dengan begitu, memahami susunan
ayat-ayat di atas ini maka “benda
terapung” ini adalah suatu kendaraan
yang belum diketahui oleh manusia.
Seperti yang disebutkan pada surat
An-Nahl ayat 8. Susunan ayat-ayat
diatas nantilah kita analisis
belakangan.
Sekarang kita masuki persoalan yang
nantinya jadi bahan dalam
penganalisaan itu.
Al-Quran sering sekali menjelaskan
persoalan rotasi dan orbit benda-
benda angkasa. Hal itu merupakan
gambaran bagi setiap orang agar
selalu memperhatikan kenapa Bumi ini
berputar pada porosnya, kenapa planet
ini bersama planet-planet yang
lainnya beredar mengelilingi matahari
yang juga berputar di porosnya.
Semua planet itu tidak bertiang, tidak
bertali dan juga tidak memiliki tempat
bergantung. Semuanya bergerak dalam
keadaan bebas terapung. Hanya
Rawasialah yang memutar planet itu di
sumbunya sambil berputar-putar
mengelilingi matahari. Sungguh
Rawasia itu adalah wujud penting dari
sesuatu yang harus diteliti lebih dalam
lagi oleh para astronom. Dengan
mengetahui keadaan Rawasia setiap
planet, maka tabir misteri alam
semesta yang tak terbatas itu akan
terkuak.
Bumi yang beratnya sekitar 700 triliun
ton tidak jatuh pada matahari karena
gaya lantingnya (centrifugal) dalam
keadaan mengorbit, sebaliknya Bumi
juga tidak terlanting jauh keluar dari
garis orbitnya sebab ditahan oleh gaya
gravitasi pada matahari sebagai pusat
orbit.
Kekuatan gaya lanting Bumi dan gaya
gravitasi adalah sama besarnya, orang
ahli menyebutnya dengan Equilibrium.
Oleh karena itulah sampai hari ini Bumi
yang kita diami terus menerus
berputar dan beredar mengelilingi
matahari.
Andaikan kalau Bumi hanya memakai
gaya lantingnya saja tanpa
menggunakan gaya gravitasi. Maka,
bisa dipastikan Bumi akan melayang
jauh meninggalkan matahari. Dengan
begitu, tenaga centrifugal seperti
yang dimiliki Bumi dapat diadopsi oleh
“piring terbang” untuk terbang jauh
jika tenaga gravitasinya dihilangkan.
Nah, akhirnya kita pun sampai pada
pertanyaan ini, bagaimana cara
menghilangkan gaya gravitasi itu?
Salah satu caranya adalah dengan
memutar bagian pesawat secara
horisontal. Apabila putaran itu
semakin cepat maka semakin besar
pula gaya centrifugal yang dihasilkan
dan semakin kecillah gaya
gravitasinya, sampai akhirnya gaya
gravitasi ini akan hilang sama sekali
dan mulailah pesawat dapat terangkat
dengan mudah tanpa terpengaruh oleh
gravitasi Bumi.
Mungkin anda akan bertanya,
bagaimana bisa pesawat dapat
berputar terus menerus tanpa
tumpuan? Dari situlah kita namakan
pesawat ini dengan Shuttling System,
yaitu pesawat berbentuk piring dempet
yang ditengah-tengahnya adalah
tempat penumpang.
Kita boleh mengatakan bahwa
kendaraan manusia kini sudah kolot,
kuno atau usang karena sistem yang
dipakainya sudah berlaku selama
ribuan tahun, yang semuanya itu
memakai prinsip menolak ke belakang
untuk maju ke depan dan menolak ke
bawah untuk naik ke atas. Setelah
manusia sanggup memakai gaya
centrifugal berbentuk “piring
terbang” barulah manusia akan
memulai kendaraan modern.
Jadi, masa terwujudnya “piring
terbang” adalah batas antara ke-
kuno-an dan kemodernan peradaban
manusia. Batas ini disebut oleh Al-
Quran dalam surat Az-Zukhruf ayat 13
diatas dengan bahasa kiasan, bahwa
profesor yang mulai menggunakan
“piring terbang” mengatakan; Waktu
itu manusia baru memulai hidup dalam
generasi lain yaitu generasi pesawat
itu tidaklah segenerasi dengan
modern.
Dalam peradaban modern dimana
manusia umumnya memakai piring
terbang sebagai kendaraan, akan
banyak sekali perubahan dalam
kehidupan baik di bidang jasmaniah
maupun di bidang rohaniah. Di bidang
jasmaniah akan berlaku perubahan
dalam kehidupan seperti, orang-orang
tak lagi membutuhkan jalan raya dan
rel kereta api yang pembangunannya
sangat banyak menghabiskan tenaga,
tempat, benda dan waktu.
Orang-orang akan memanfaatkan
daerah itu untuk tempat tinggal atau
untuk kebutuhan lainnya. Orang-
orang akan memindahkan perhatiannya
terhadap lautan sebagai sumber
makanan karena lautan itu memang
sangat luas yang mengandung berbagai
bahan untuk keperluan hidup, dan
daratan sebagian besar akan dijadikan
orang untuk tempat bermukim. Orang-
orang nantinya akan melakukan
penerbangan antar planet secara
lazim dimana planet Jupiter, Venus,
Saturnus dan planet yang lebih besar
lainnya akan menjadi sasaran dalam
perekonomian dan politik.
Di bidang rohaniah akan berlaku
perubahan dalam kehidupan seperti,
orang-orang akan menyadari bahwa
alam semesta ini memang diciptakan
untuk kebutuhan hidup manusia oleh
Allah Yang Maha Esa. Orang-orang
akan menyadari bahwa manusia di
planet Bumi dalam tata surya ini
berasal dari satu diri, satu spesies,
atau serumpun.
Bukan dari hasil evolusi monyet,
seperti teori Darwin yang dikalahkan
logika. Orang-orang akan menyadari
bahwa agama yang diturunkan oleh
Allah SWT itu hanyalah agama Tauhid
yang sama sebagaimana yang
tercantum dalam surat Al-Imran ayat
83.
Orang-orang akan menyadari bahwa
agama Tauhid yang diturunkan Sang
Khaliq itu mengandung hukum yang
sesuai dengan kejadian dan naluri
yang terdapat di alam semesta raya
dan pada diri manusia sendiri, dan
bahwa menolak agama itu berarti
merugikan diri sendiri.
Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami
di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa Al Quran itu adalah
benar. Tiadakah cukup bahwa
Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi
atas segala sesuatu? (Surat Al-
Fushshilat ayat 53)
Maka apakah mereka mencari agama
yang lain selain dari agama Allah,
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan
diri segala apa yang di planet-planet
dan di bumi ini, baik dengan suka
maupun terpaksa dan Hanya kepada
Allah-lah mereka akan kembali.
(Surat Al-Imran ayat 83)
Penganut Islam Lebih Mudah Menerima
Adanya UFO dan Alien
Tanpa bermaksud mengurangi
penghormatan saya terhadap penganut
agama-agama lain (yang saya memang
tidak atau kurang memiliki
pengetahuan tentang ajaran-
ajarannya), menurut saya, penganut
Islam SEHARUSNYA lebih mudah untuk
menerima kehadiran UFO dan Alien.
Mengapa? Karena dalam kitab suci Al-
Quran jelas-jelas Allah SWT
menyatakan keberadaan makhluk-
makhluk cerdas lain selain manusia,
yang salah satunya disebut “jin.” Jin
ini bisa berubah bentuk menjadi apa
saja.
Mereka hidup di alam yang sama
dengan manusia, meski berasal dari
dimensi yang berbeda, sehingga
manusia umumnya jarang atau tidak
pernah bertemu dengannya (kecuali
dalam situasi-situasi yang luar biasa).
Artinya, bisa dikatakan bahwa dengan
mengakui dan menerima keberadaan
UFO, Alien, dan lain-lain itu, seorang
Muslim tidak perlu merasakan adanya
pertentangan atau kontradiksi,
antara fakta adanya UFO/Alien itu
dengan keyakinan/kepercayaan
agamanya. Tentu akan sulit halnya,
jika ajaran agama terang-terangan
menolak adanya makhluk cerdas lain
selain manusia.
Namun, ajaran Islam (sekali lagi,
sejauh pemahaman saya yang bukan
ahli agama) juga menyatakan, “jin”
dan lain-lain itu termasuk hal ghoib.
Artinya, hanya Allah SWT yang tahu.
Manusia bisa mengetahuinya, namun
yang bisa diketahui sangat terbatas.
Jadi, tidak usah berambisi untuk tahu
sangat banyak tentang “jin” dan lain-
lain itu. Kita memahami keberadaan
“jin” (atau UFO, Alien, dll) sebagai
petunjuk kebesaran kekuasaan Tuhan
yang Maha Pencipta.
Dan seperti yang ada pada Al-Qur’an
bahwa smua makhluk termasuk jin,
hewan, tumbuhan dan semua benda
mulai dari molekul hingga super
bintang di seantero jagat raya baik
yang bernyawa ataupun tidak
semuanya menyembah Allah SWT Sang
Maha Segalanya, Sang Pemilik
Semuanya, mereka (semua benda
tersebut) tunduk dan menyembahNya
dengan caranya masing-masing.
Maha Benar Allah, dengan segala
FirmanNya.
Wassalam.

No comments:

Post a Comment